| sumber gambar Link |
Judul :
PENDIDIKAN KARAKTER BERBASIS SASTRA
Internalisasi Nilai-nilai Karakter melalui Pengajaran Sastra
Penulis : Agus Wibowo, M.Pd
Penerbit : Pustaka Pelajar
Tahun : 2013
Tebal : 179 halaman
Pendidikan
idealnya merupakan sarana humanisasi bagi anak didik. Itu karena pendidikan
memberikan ruang bagi pengajaran etika moral, dan segenap aturan luhur yang
membimbing anak didik untuk mencapai humanisasi. Pendidikan merupakan upaya
normatif yang mengacu pada nilai-nilai mulia, yang menjadi bagian dari
kehidupan bangsa, yang dengannya nilai tersebut dapat dilanjutkan melalui peran
transfer pendidikan baik aspek kognitif, sikap (afektif), maupun keterampilan
(psikomotorik). Pendidikan membimbing manusia menjadi manusia yang makin dewasa
secara intelektual, moral dan sosial, dalam konteks ini pendidikan merupakan
pemelihara budaya.
Proses
internalisasi karakter mulia (good character), menurut Lickona melalui
tiga tahapan penting, yaitu: pertama anak didik memiliki pengetahuan
tentang kebaikan (moral knowing). Kedua dari pengetahuan tentang
kebaikan selanjutnya timbul komitmen (niat) anak didik terhadap kebaikan (moral
feeling), dan ketiga setelah anak didik memiliki komitmen tentang
kebaikan, akhirnya mereka benar-benar melakukan kebaikan (moral behavior).
Berdasarkan pendapat Lickona tersebut dapat disimpulkan bahwa karakter mengacu
pada serangkaian pengetahuan (cognitives), sikap (attitudes), dan
motivasi (motivations), serta perilaku (behaviors) dan
keterampilan (skills). Internalisasi karakter tidak cukup berhenti pada
pengetahuan, namun muara dari karakter itu adalah tindakan atau tingkah laku
dalam kehidupan sehari-hari. Orang berkarakter adalah orang yang
berkepribadian, berprilaku, bersifat dan bertabiat serta berwatak.
Peran sastra dalam
pendidikan karakter menurut Suhardini Nurhayati (2013), pengajaran sastra
memiliki pertautan erat dengan pendidikan karakter, karena pengajaran sastra
dan sastra pada umumnya, secara hakiki membicarakan nilai hidup dan kehidupan
yang mau tidak mau berkaitan langsung dengan pembentukan karakter manusia. Sastra
dalam pendidikan anak dapat berperan mengembangkan aspek kognitif, afektif,
psikomotorik dan mengembangkan kepribadian serta mengembangkan pribadi sosial.
Sastra melalui
unsur imajinasinya, mampu membimbing anak didik pada keluasan dalam berpikir,
bertindak, berkarya dan sebagainya. Imajinasi dalam Wikipedia didefinisikan
sebagai kekuatan atau proses menghasilkan citra mental dan ide. Sedang dalam
disiplin ilmu psikologi, imajinasi merupakan proses membangun kembali persepsi
dari suatu benda yang terlebih dahulu diberi persepsi pengertian.
Sastra adalah
dunia yang unik, khas tetapi asing. Sastra unik karena ia selalu bermain dengan
kata-kata. Ia menjelma melalui perantara kata dan kalimat. Dengan kata-kata seorang
sastrawan mampu menguncang dan merubah dunia, mempengaruhi, menyihir dan
menghipnotis, bahkan memprovokasi pembacanya. Kata-kata yang tertata apik dan
penuh cita rasa, memaksa penikmatnya untuk mengikuti ide, gagasan atau seruan
seorang sastrawan. Sastra bukan otoritas meniscayakan penikmatnya untuk
berprilaku tidak sesuai dengan kehidupan karena sastra adalah kehidupan itu
sendiri. Pencitraan sastra pada kondisi fisik bahkan jika kebetulan prilaku
negatif maka akan mengurangi universalitas sastra sendiri. Jika sudah demikian
maka tidak dapat diharapkan lagi kontibusi positifnya bagi kehidupan.
Hakikatnya karya
sastra adalah bercerita. Bercerita ini adalah bentuk dari hasil pekerjaan seni
kreatif, yang objeknya adalah manusia dan kehidupannya, dengan menggunakan
bahasa sebagai mediumnya. Dengan demikian kesusastraan sebagai karya kreatif
harus mampu melahirkan suatu kreasi yang indah dan berusaha menyalurkan
kebutuhan keindahan manusia. Sastra juga harus mampu menjadi wadah penyampaian
ide-ide yang dipikirkan dan dirasakan oleh sastrawan tentang kehidupan manusia.
Berdasarkan uraian tersebut, jelaslah bahwa karya sastra mempunyai peran yang
amat penting dalam kehidupan manusia, terutama kehidupan rohani. Segala sesuatu
yang menyangkut kehidupan manusia, sampai dengan yang paling kompleks sekalipun
dapat diungkapkan dalam karya sastra tersebut.
Sastra yang
mencerahkan umat adalah sastra yang mampu menghaluskan rohaniah, mempertajam
visi, misi dan ruang imajinasi, membuat halus jiwanya, bertambah pengetahuannya,
berkepribadian mulia dan luas jiwanya. Karya sastra baik yang bernuansa
religious maupun tidak, masti menjadi transfer pendidikan yang penuh vitamin
ruhani, penyejuk hati, penebar kebahagiaan dan penuntun masyarakat pada
pencerahan peradaban menuju jalan Tuhan.
Terkait dengan
pendidikan karakter, sastra dapat menjadi salah satu media pembentuk watak
moral anak didik. Dengan sastra para guru dapat mempengaruhi anak didik.
Selanjutnya, karya sastra dapat menyampaikan pesan-pesan moral baik secara implisit
maupun eksplisit. Dengan mengapresiasi cerpen, novel, cerita rakyat, dan puisi
kita dapat membentuk karakter anak didik, karena sastra mampu memainkan
perannya. Nilai-nilai kejujuran, kebaikan, persahabatan, persaudaraan,
kekeluargaan, keikhlasan, ketulusan, kebersamaan dan lain sebagainya yang
berhubungan dengan pendidikan karakter.
Dalam proses
pembelajaran guru harus mengarahkan anak didik dalam proses membaca karya
sastra untuk dapat menemukan nilai-nilai positif dari karya sastra yang mereka baca.
Kemudian guru memberikan kebebasan pada anak didik untuk menemukan dan
menyimpulkan sendiri nilai-nilai yang ada dalam karya sastra. Selanjutnya, guru
membimbing anak didik untuk dapat mengaplikasikan nilai-nilai positif yang
telah diperoleh dari karya sastra dalam kehidupan sehari-hari.
Menurut Haryadi
(2013), peran sastra dalam pembentukan karakter bangsa tidak hanya didasarkan
pada nilai yang terkandung di dalamnya. Pembelajaran sastra yang bersifat
apresiatif pun sarat dengan pendidikan karakter. Kegiatan membaca, mendengar
dan menonton karya sastra pada hakikatnya menanamkan karakter tekun berpikir
kritis, dan berwawasan luas. Pada saat yang bersamaan dikembangkan kepekaan
perasaan sehingga pembaca cenderung cinta kepada kebaikan dan membela kebenaran.
Pada kegiatan
apresiasi sastra pikiran, perasaan dan kemampuan motorik dilatih dan
dikembangkan. Melalui kegiatan semacam itu pikiran menjadi kritis, perasaan
menjadi peka dan halus serta kemampuan motorik terlatih. Semua itu merupakan
modal dasar yang sangat berarti dalam pengembangan pendidikan karakter.
Secara keseluruhan
buku ini sangat baik dalam menuangkan isi gagasannya. Pembahasan yang ada di
dalamnya juga sangat kompleks mulai dari pengenalan mengenai pendidikan,
karakter dan sastra, hingga pada penjelasan mengenai bagaimana sastra dapat
dijadikan sebagai media untuk membentuk karakter anak didik. Namun kekurangan yang ada pada buku ini
adalah penulis sering kali mengulang-ulang kalimat yang ada pada paragraf yang
sama sehingga mengurangi nilai intristik yang ada pada buku ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar