Kamis, 05 Mei 2016

Pendidikan Karakter Berbasis Sastra

sumber gambar Link


Judul        : PENDIDIKAN KARAKTER BERBASIS SASTRA 
               Internalisasi Nilai-nilai Karakter melalui Pengajaran Sastra
Penulis     : Agus Wibowo, M.Pd
Penerbit   : Pustaka Pelajar
Tahun       : 2013
Tebal        : 179 halaman

            Pendidikan idealnya merupakan sarana humanisasi bagi anak didik. Itu karena pendidikan memberikan ruang bagi pengajaran etika moral, dan segenap aturan luhur yang membimbing anak didik untuk mencapai humanisasi. Pendidikan merupakan upaya normatif yang mengacu pada nilai-nilai mulia, yang menjadi bagian dari kehidupan bangsa, yang dengannya nilai tersebut dapat dilanjutkan melalui peran transfer pendidikan baik aspek kognitif, sikap (afektif), maupun keterampilan (psikomotorik). Pendidikan membimbing manusia menjadi manusia yang makin dewasa secara intelektual, moral dan sosial, dalam konteks ini pendidikan merupakan pemelihara budaya.

            Proses internalisasi karakter mulia (good character), menurut Lickona melalui tiga tahapan penting, yaitu: pertama anak didik memiliki pengetahuan tentang kebaikan (moral knowing). Kedua dari pengetahuan tentang kebaikan selanjutnya timbul komitmen (niat) anak didik terhadap kebaikan (moral feeling), dan ketiga setelah anak didik memiliki komitmen tentang kebaikan, akhirnya mereka benar-benar melakukan kebaikan (moral behavior). Berdasarkan pendapat Lickona tersebut dapat disimpulkan bahwa karakter mengacu pada serangkaian pengetahuan (cognitives), sikap (attitudes), dan motivasi (motivations), serta perilaku (behaviors) dan keterampilan (skills). Internalisasi karakter tidak cukup berhenti pada pengetahuan, namun muara dari karakter itu adalah tindakan atau tingkah laku dalam kehidupan sehari-hari. Orang berkarakter adalah orang yang berkepribadian, berprilaku, bersifat dan bertabiat serta berwatak.
            Peran sastra dalam pendidikan karakter menurut Suhardini Nurhayati (2013), pengajaran sastra memiliki pertautan erat dengan pendidikan karakter, karena pengajaran sastra dan sastra pada umumnya, secara hakiki membicarakan nilai hidup dan kehidupan yang mau tidak mau berkaitan langsung dengan pembentukan karakter manusia. Sastra dalam pendidikan anak dapat berperan mengembangkan aspek kognitif, afektif, psikomotorik dan mengembangkan kepribadian serta mengembangkan pribadi sosial.
            Sastra melalui unsur imajinasinya, mampu membimbing anak didik pada keluasan dalam berpikir, bertindak, berkarya dan sebagainya. Imajinasi dalam Wikipedia didefinisikan sebagai kekuatan atau proses menghasilkan citra mental dan ide. Sedang dalam disiplin ilmu psikologi, imajinasi merupakan proses membangun kembali persepsi dari suatu benda yang terlebih dahulu diberi persepsi pengertian.
            Sastra adalah dunia yang unik, khas tetapi asing. Sastra unik karena ia selalu bermain dengan kata-kata. Ia menjelma melalui perantara kata dan kalimat. Dengan kata-kata seorang sastrawan mampu menguncang dan merubah dunia, mempengaruhi, menyihir dan menghipnotis, bahkan memprovokasi pembacanya. Kata-kata yang tertata apik dan penuh cita rasa, memaksa penikmatnya untuk mengikuti ide, gagasan atau seruan seorang sastrawan. Sastra bukan otoritas meniscayakan penikmatnya untuk berprilaku tidak sesuai dengan kehidupan karena sastra adalah kehidupan itu sendiri. Pencitraan sastra pada kondisi fisik bahkan jika kebetulan prilaku negatif maka akan mengurangi universalitas sastra sendiri. Jika sudah demikian maka tidak dapat diharapkan lagi kontibusi positifnya bagi kehidupan.
            Hakikatnya karya sastra adalah bercerita. Bercerita ini adalah bentuk dari hasil pekerjaan seni kreatif, yang objeknya adalah manusia dan kehidupannya, dengan menggunakan bahasa sebagai mediumnya. Dengan demikian kesusastraan sebagai karya kreatif harus mampu melahirkan suatu kreasi yang indah dan berusaha menyalurkan kebutuhan keindahan manusia. Sastra juga harus mampu menjadi wadah penyampaian ide-ide yang dipikirkan dan dirasakan oleh sastrawan tentang kehidupan manusia. Berdasarkan uraian tersebut, jelaslah bahwa karya sastra mempunyai peran yang amat penting dalam kehidupan manusia, terutama kehidupan rohani. Segala sesuatu yang menyangkut kehidupan manusia, sampai dengan yang paling kompleks sekalipun dapat diungkapkan dalam karya sastra tersebut.
            Sastra yang mencerahkan umat adalah sastra yang mampu menghaluskan rohaniah, mempertajam visi, misi dan ruang imajinasi, membuat halus jiwanya, bertambah pengetahuannya, berkepribadian mulia dan luas jiwanya. Karya sastra baik yang bernuansa religious maupun tidak, masti menjadi transfer pendidikan yang penuh vitamin ruhani, penyejuk hati, penebar kebahagiaan dan penuntun masyarakat pada pencerahan peradaban menuju jalan Tuhan.
            Terkait dengan pendidikan karakter, sastra dapat menjadi salah satu media pembentuk watak moral anak didik. Dengan sastra para guru dapat mempengaruhi anak didik. Selanjutnya, karya sastra dapat menyampaikan pesan-pesan moral baik secara implisit maupun eksplisit. Dengan mengapresiasi cerpen, novel, cerita rakyat, dan puisi kita dapat membentuk karakter anak didik, karena sastra mampu memainkan perannya. Nilai-nilai kejujuran, kebaikan, persahabatan, persaudaraan, kekeluargaan, keikhlasan, ketulusan, kebersamaan dan lain sebagainya yang berhubungan dengan pendidikan karakter.
            Dalam proses pembelajaran guru harus mengarahkan anak didik dalam proses membaca karya sastra untuk dapat menemukan nilai-nilai positif dari karya sastra yang mereka baca. Kemudian guru memberikan kebebasan pada anak didik untuk menemukan dan menyimpulkan sendiri nilai-nilai yang ada dalam karya sastra. Selanjutnya, guru membimbing anak didik untuk dapat mengaplikasikan nilai-nilai positif yang telah diperoleh dari karya sastra dalam kehidupan sehari-hari.
            Menurut Haryadi (2013), peran sastra dalam pembentukan karakter bangsa tidak hanya didasarkan pada nilai yang terkandung di dalamnya. Pembelajaran sastra yang bersifat apresiatif pun sarat dengan pendidikan karakter. Kegiatan membaca, mendengar dan menonton karya sastra pada hakikatnya menanamkan karakter tekun berpikir kritis, dan berwawasan luas. Pada saat yang bersamaan dikembangkan kepekaan perasaan sehingga pembaca cenderung cinta kepada kebaikan dan membela kebenaran.
            Pada kegiatan apresiasi sastra pikiran, perasaan dan kemampuan motorik dilatih dan dikembangkan. Melalui kegiatan semacam itu pikiran menjadi kritis, perasaan menjadi peka dan halus serta kemampuan motorik terlatih. Semua itu merupakan modal dasar yang sangat berarti dalam pengembangan pendidikan karakter.
            Secara keseluruhan buku ini sangat baik dalam menuangkan isi gagasannya. Pembahasan yang ada di dalamnya juga sangat kompleks mulai dari pengenalan mengenai pendidikan, karakter dan sastra, hingga pada penjelasan mengenai bagaimana sastra dapat dijadikan sebagai media untuk membentuk karakter anak didik.  Namun kekurangan yang ada pada buku ini adalah penulis sering kali mengulang-ulang kalimat yang ada pada paragraf yang sama sehingga mengurangi nilai intristik yang ada pada buku ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar