Rabu, 30 Agustus 2017

Cerpen Islami



Akhirnya Ku Temukan Hidayah
Oleh Nayuri


Namanya adalah Isabela Wijaya, kehidupan yang begitu membahagiakan dan serba berkecukupan itulah yang ia jalani selama ini. Ditambah lagi usaha yang ia tekuni selama ini berjalan dengan sangat lancar dan dapat dikatakan sangat sukses. Ia memiliki beberapa karyawan yang membantunya. Ia juga merupakan salah satu petinggi disalah satu gereja yang sangat terkenal di daerahnya.
          Keluarga yang lengkap, memiliki pekerjaan yang baik serta memiliki kedudukan yang tinggi dihadapan halayak ramai itulah kenikmatan yang dimiliki Isabela. Cerita hidupnya yang baru berawal dari kebiasaan buruk yang selalu ia kerjakan. Kebiasaan tersebut adalah setiap hari ia memarahi salah satu karyawan yang bekerja pada dirinya. Pekerjaan yang dilakukan sang karyawan hingga membuat Isabela kesal adalah setiap kali ada waktu senggang ia selalu membaca Al-Quran dan membaca buku-buku Islami.

          Sang karyawan merupakan karyawan yang sangat rajin dan sangat tekun. Namun Isabela sangat tidak suka dengan kebiasaan membaca buku Islami yang dilakukan oleh bawahannya tersebut. Kalimat yang tidak baik selalu dilontarkan olehnya setiap hari. Bertahun-tahun kebiasaan itu dilakukan namun tetap saja sang karyawan melakukan apa yang dilarang oleh majikannya itu.
          Merasa lelah dan tidak tahu lagi harus berbuat apa pada karyawannya, karena setiap hari ia telah mengingatkan namun tidak pernah didengar juga. Hingga suatu hari Isabela menyadari sesuatu, ia mulai penasaran dengan apa yang dilakukan oleh salah satu karyawan terbaiknya tersebut. Rasa penasaran yang Isabela alami, mendorongnya untuk melakukan penyelidikan pada apa yang selama ini karyawannya baca dan pelajari. Isabela mulai membaca buku-buku yang dibaca oleh karyawannya selama ini, meskipun buku-buku tersebut sangat bertolak belakang dengan keyakinan yang dianut oleh Isabela. Namun Isabela tetap membaca dan mulai sedikit demi sedikit mempelajarinya.
          Tidak terasa dua tahun sudah Isabela melakukan kegiatan persis seperti apa yang dilakukan oleh karyawannya. Rasa ketertarikannya terhadap ajaran Islam mulai muncul, ia terus menerus membaca dan mempelajari ajaran Islam melalui buku-buku yang telah dibaca oleh karyawannya. Dari rasa penasaran dan tertarik itulah tanpa disadari oleh Isabela ternyata ia telah mendapat hidayah yang luar biasa dari Allah SWT. Hidayah yang dapat membimbingnya kejalan yang diridhai oleh-Nya.
          Selama dua tahun itulah hati Isabela mengalami dilema yang sangat besar. Dimana ia harus memilih antara Islam atau mempertahankan apa yang telah dimilikinya selama ini. Karena hati Isabela yang telah tertanam rasa cinta yang begitu kuat pada ajaran Islam membuatnya rela untuk meninggalkan segalanya. Meskipun demikian jalannya untuk masuk Islam tidak semudah yang dibayangkan, pertentangan muncul dari banyak pihak, bukan hanya dari keluarga tetapi juga dari pihak gereja dan masyarakat khatolik yang ada di daerahnya.
Kebulatan tekad dan rasa cintanya kepada Allah SWT membuat ia berani mengambil keputusan yang berat bagi hidupnya. Tiga tahun kemudian setelah ia mempelajari ajaran Islam tepatnya pada bulan agustus 2008 ia memberanikan diri untuk mengikrarkan janjinya untuk memeluk agama Islam dengan penuh keikhlasan dan ketulusan.
Setalah ia masuk Islam kehidupannya benar-benar 180 derajat berbeda dibanding sebelumnya. Sebelum masuk Islam ia adalah orang yang sangat percaya pada kekuatan mistis dan sangat percaya pada kekuatan seorang dukun, karena dengan bantuan dukun semua usahanya selama ini dapat berjalan dengan lancar dan sangat sukses. Sedang tanggung jawabnya pada gereja adalah menjalankan misi untuk menarik warga yang beragama lain agar menganut ajaran khatolik, memalui bakti sosial dan kegiatan lainya. Kemudian ia juga memberikan pengarahan pada para pemuda khatolik untuk menarik umat lain melalui misi cintanisasi.
Hari dimana ia masuk Islam, ketika itulah ia benar-benar tidak memiliki apa-apa dan siapapun. Ia menjalani kehidupan dari titik paling bawah, ia tinggal dikontrakan yang sangat kecil itupun ia hanya menumpang pada saudara muslim yang baru dikenalnya. Setelah beberapa hari ia tinggal ditempat itu, ia mulai mencari pekerjaan untuk dapat menghidupi dirinya dan untuk mencari tempat tinggal yang baru. Disela-sela ia bekerja ia terus mempelajari Islam, setelah ia mendapat gaji pertamanya akhirnya ia memutuskan untuk pindah dari kontrakan saudaranya tersebut. Selang beberapa waktu itu akhirnya ia memutuskan untuk tinggal pada pondok pesantren yang menampung orang-orang mualaf.
          Di pondok itulah kemampuan keagamaannya diasah dan terus dikembangkan. Selang beberapa saat ia semakin pandai dalam bidang dakwah. Ia sering mengikuti serangkaian dakwah yang dilaksanakan oleh pondoknya. Di pondok itu juga ia menemukan pasangan hidupnya yang baru. Bersama dengan suaminya ia mendirikan sebuah panti asuhan yang khusus menampung anak-anak yang kurang beruntung dan melakukan kegiatan sosial yang titik fokusnya pada masyarakat pedalaman yang pemahaman agamanya masih sedikit.
Hidup adalah sebuah proses dimana perjuangan dan keikhlasanlah yang menjadi modal utama dalam mengarungi kerasnya sebuah kehidupan. Manusia yang takut akan perubahan tentu saja tidak akan mampu merubah kehidupan yang dijalaninya sampai kapan pun. Allah telah berfirman sesungguhnya Allah tidak akan mungkin merubah sebuah kaum kecuali kaum tersebut berusaha untuk merubah dirinya.
          Semua keadaan dan kejadian yang dialami itu telah menjadi kehendak Nya namun sebagai seorang manusia yang telah dianugerahkan sebuah akal untuk berpikir tentu saja kita dituntut untuk dapat menyelesaikan segala permasalahan yang ada dengan sebaik-baiknya dan berusaha yang terbaik.
          Dihadapan Nya bukan sekedar hasil yang dinilai namun yang lebih penting dan yang paling mendasar adalah sebuah proses untuk pencapaian hasil. Jika proses yang dijalani dengan penuh keikhlasan dan perjuangan maka hasil yang dicapai akan memberikan sebuah kenikmatan yang begitu luar biasa dan tidak akan ternilai hargannya.
          Bermimpi dan berjuang itu lah kunci untuk mencapai segala keinginan tanpa melupakan unsur doa. Karena tanpa diiringi dengan doa segala usaha yang dilakukan tidak akan mungkin berhasil dan menjadi sia-sia.
         

Tidak ada komentar:

Posting Komentar